Berita Desa

Merekam Warisan, Menjaga Ingatan: UM Belajar Bersama Masyarakat Kelompok 2 Hadirkan Video Arsip Jejak Arjowilangun

Tidak semua warisan budaya dapat disimpan dalam bentuk benda. Sebagian besar justru hidup melalui cerita, tradisi, dan ingatan para pelaku sejarah. Berangkat dari kesadaran tersebut, Universitas Negeri Malang (UM) Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Kelompok 2 menginisiasi program Video Arsip "Jejak Arjowilangun", sebuah dokumentasi audiovisual yang bertujuan merekam sejarah, adat istiadat, dan potensi budaya Desa Arjowilangun agar tetap lestari serta dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat.

Proses penyusunan video diawali pada 25 Juni 2026 melalui koordinasi bersama Bapak Boyadi, Ketua Lembaga Adat Desa Arjowilangun. Pertemuan tersebut membahas konsep dokumentasi, penentuan narasumber, hingga penyusunan jadwal pengambilan gambar. Diskusi berlangsung hangat dan menghasilkan kesepakatan untuk menghadirkan tokoh-tokoh yang memahami perjalanan sejarah serta perkembangan budaya Desa Arjowilangun.

Tahap produksi dilaksanakan pada 10 Juli 2026. Sejak sore hari, mahasiswa melakukan pengambilan gambar bersama tiga narasumber, yaitu Bapak Boyadi, Bapak Karmuji, dan Mbah Rinto, di Sanggar Eyang Demang Mertowijoyo. Melalui wawancara yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB, para narasumber menceritakan sejarah berdirinya Desa Arjowilangun, nilai-nilai adat yang masih dijaga hingga kini, serta berbagai tradisi yang menjadi identitas masyarakat setempat. Setiap kisah yang disampaikan menjadi potongan sejarah berharga yang diabadikan dalam bentuk video agar dapat terus dikenang oleh generasi mendatang.

Di sela-sela proses pengambilan gambar, mahasiswa mendapat kesempatan istimewa untuk memasuki ruang penyimpanan benda-benda pusaka milik Sanggar Eyang Demang Mertowijoyo. Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi bersejarah, seperti tombak pusaka, replika kepala Sukoco dan Sukaci, hingga tempat tidur yang dipercaya pernah digunakan oleh Eyang Demang Mertowijoyo. Pengalaman tersebut menjadi momen yang jarang diperoleh karena tidak semua orang memiliki kesempatan melihat secara langsung peninggalan-peninggalan yang sarat akan nilai sejarah tersebut.

Menjelang waktu Magrib, proses dokumentasi berlanjut di Paron Agung Linggayoni, salah satu lokasi yang memiliki nilai historis dan budaya bagi masyarakat Desa Arjowilangun. Lanskap alam yang berpadu dengan cerita para narasumber memberikan warna tersendiri bagi proses produksi video. Setiap sudut lokasi menjadi bagian penting dalam merangkai narasi tentang identitas desa yang kaya akan sejarah dan tradisi.

Bagi mahasiswa UM Belajar Bersama Masyarakat Kelompok 2, program "Jejak Arjowilangun" bukan sekadar proses pembuatan video dokumenter. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi perjalanan untuk mengenal lebih dekat akar budaya masyarakat, mendengarkan kisah-kisah yang selama ini diwariskan secara lisan, serta menyaksikan bagaimana nilai-nilai leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Video arsip ini diharapkan menjadi dokumentasi yang tidak hanya menyimpan rekaman gambar dan suara, tetapi juga menjaga ingatan kolektif masyarakat tentang jati diri Desa Arjowilangun. Sebab, ketika sejarah berhasil didokumentasikan dan diceritakan kembali kepada generasi berikutnya, budaya akan terus hidup dan menjadi warisan yang tak lekang oleh waktu.

Beri Komentar