Arjowilangun, Kabupaten Malang – Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Kelompok 2 Desa Arjowilangun berkesempatan mengikuti Tradisi Suroan di Petilasan Mbah Reso, Dusun Lodalem, pada Kamis malam, 25 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.00 hingga 24.00 WIB ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam mengenal lebih dekat warisan budaya lokal sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat.
Petilasan Mbah Reso yang berada di tengah hamparan persawahan menghadirkan suasana yang begitu khas. Meski harus melewati jalan yang gelap menuju lokasi, antusiasme masyarakat untuk hadir tidak pernah surut. Sesampainya di petilasan, mahasiswa disambut dengan semangkuk soto hangat yang dinikmati bersama warga sebelum acara dimulai. Suasana sederhana namun penuh keakraban tersebut menjadi awal dari pengalaman yang membekas selama menjalani pengabdian di Desa Arjowilangun.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari panitia penyelenggara, dilanjutkan oleh perwakilan lembaga adat dan juru kunci Petilasan Mbah Reso yang menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai budaya, menghormati jasa para leluhur, serta melestarikan tradisi sebagai identitas masyarakat desa. Setiap pesan yang disampaikan mengandung makna mendalam tentang rasa syukur, kebersamaan, dan tanggung jawab generasi muda dalam merawat warisan budaya.
Suasana malam semakin khidmat ketika lantunan tembang macapat mulai menggema. Penampilan para pelestari seni macapat bersama organisasi macapat Desa Arjowilangun berhasil memukau seluruh peserta. Bagi sebagian besar mahasiswa UM BBM Kelompok 2, ini merupakan pengalaman pertama mendengarkan macapat secara langsung. Syair-syair yang sarat akan filosofi kehidupan berpadu dengan suasana malam di tengah persawahan, menciptakan pengalaman budaya yang begitu mengesankan.
Di balik gelapnya malam, mahasiswa justru merasakan kehangatan yang lahir dari kebersamaan masyarakat. Rasa asing yang sempat muncul perlahan berubah menjadi rasa kagum terhadap kuatnya budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dipahami, dihargai, dan dilestarikan bersama.
Menjelang berakhirnya kegiatan, panitia membagikan berkatan berupa nasi beserta lauk khas desa yang dibungkus untuk dibawa pulang oleh seluruh peserta. Tradisi berbagi tersebut menjadi penutup yang sederhana namun penuh makna. Bagi mahasiswa, cita rasa hidangan khas desa semakin melengkapi pengalaman yang tidak hanya memperkenalkan budaya, tetapi juga menghadirkan kehangatan keluarga di tengah masyarakat.
Keikutsertaan mahasiswa UM Belajar Bersama Masyarakat Kelompok 2 dalam Tradisi Suroan di Petilasan Mbah Reso menjadi bukti bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui program kerja, tetapi juga melalui keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dari malam itu, mahasiswa belajar bahwa rasa takut akan gelapnya perjalanan menuju petilasan dapat dikalahkan oleh hangatnya kebersamaan dan tumbuhnya rasa cinta terhadap budaya yang diwariskan oleh para leluhur.