Berita Desa

Menjadi Kakak Mengaji bagi Generasi Qurani: Kehangatan Mahasiswa UM Belajar Bersama Masyarakat Kelompok 2 di TPQ Roudhotus Sifa'

Suara anak-anak melafalkan ayat demi ayat Al-Qur'an kembali terdengar di TPQ Roudhotus Sifa', Dusun Barisan, setelah libur panjang. Senyum mereka menyambut kehadiran para mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Kelompok 2 yang selama beberapa hari mendampingi proses belajar mengaji. Bukan sekadar membantu mengajar, kehadiran mahasiswa menjadi warna baru yang menghadirkan semangat dan keceriaan bagi para santri.

Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, mahasiswa terlebih dahulu melakukan koordinasi bersama pengajar TPQ pada 24 Juni 2026 untuk menyusun pembagian tugas dan menyesuaikan proses pendampingan dengan sistem pembelajaran yang telah berjalan. Sebanyak 11 mahasiswa yang beragama Islam kemudian dibagi menjadi tiga tim pengajar agar proses belajar dapat berlangsung lebih efektif.

Hari pertama pendampingan dilaksanakan pada 13 Juli 2026 oleh Syafira, Dila, Hikmah, dan Tasya. Setelah melaksanakan salat Asar berjamaah, kegiatan dibuka dengan sambutan dari ustadz TPQ. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk memberikan tausiah singkat kepada para santri. Dalam penyampaiannya, Hikmah Putri mengajak anak-anak mengenal tiga amalan yang pahalanya tidak terputus meskipun seseorang telah meninggal dunia, yaitu amal jariyah, doa dari anak yang saleh dan salehah, serta ilmu yang bermanfaat. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, tausiah tersebut mengajak anak-anak untuk gemar bersedekah, berbakti kepada orang tua, serta rajin menuntut ilmu sebagai bekal kehidupan. Antusiasme para santri terlihat dari perhatian mereka selama mendengarkan materi dan keberanian menjawab pertanyaan yang diberikan.

Memasuki hari kedua pada 14 Juli 2026, kegiatan belajar mengaji mulai berlangsung secara penuh. Pendampingan dilakukan oleh Ivan, Deoval, Melissa, dan Wafika. Para santri dibagi ke dalam dua sesi pembelajaran, yakni pukul 15.00–16.00 WIB dan 16.00–17.00 WIB, sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Mahasiswa mendampingi anak-anak yang masih berada pada tahap pengenalan huruf hijaiyah dan jilid, sekaligus membantu santri yang telah memasuki tahap membaca Al-Qur'an. Pendekatan yang sabar dan komunikatif membuat suasana belajar terasa lebih nyaman dan menyenangkan.

Pendampingan kemudian ditutup pada 16 Juli 2026 oleh Fazel, Dika, dan Hanun. Selain membantu proses mengaji seperti hari sebelumnya, mahasiswa menghadirkan suasana belajar yang lebih interaktif melalui kuis seputar pengetahuan agama Islam. Setiap anak yang berhasil menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah sederhana sebagai bentuk apresiasi. Cara tersebut berhasil menciptakan suasana belajar yang penuh semangat. Anak-anak terlihat antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dan mengikuti kegiatan hingga selesai dengan penuh keceriaan.

Selama tiga kali pertemuan, mahasiswa tidak hanya mendampingi proses membaca Al-Qur'an, tetapi juga berusaha membangun kedekatan dengan para santri melalui interaksi yang hangat dan menyenangkan. Kehadiran mahasiswa menjadi penyemangat baru bagi anak-anak untuk kembali belajar setelah libur panjang, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih variatif.

Di ruang sederhana tempat anak-anak belajar mengaji setiap sore, terselip harapan-harapan besar yang sedang tumbuh. Dari satu huruf hijaiyah yang dibaca dengan benar, dari satu jawaban yang disampaikan dengan percaya diri, hingga dari satu nasihat yang didengarkan dengan sungguh-sungguh, tersusun langkah-langkah kecil menuju lahirnya generasi yang mencintai Al-Qur'an, berakhlak mulia, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Beri Komentar